Ajang Buka Mata dan Hati Bersama
Sharing Knowledge Climate Change adalah tema yang sangat menarik dalam seminar, Selasa (9/2) yang membahas persoalan mengenai pemanasan global (global warming) dan penulis sangat mendukung bahkan mengacungi jempol jika pemerintah RI memasukkan program ini untuk masyarakat luas.
Salah satu tujuan utama seminar ini mengacu pada kesadaran setiap orang untuk menanam pohon lebih banyak. Hal ini dimaksudkan agar sinar matahari dapat diserap oleh banyak tumbuhan hijau yang menjadi target saat ini.
Berbagai foto perbandingan wilayah dunia setiap tahun dipamerkan, termasuk di Indonesia. Info paling mengagetkan datang di Jakarta dan Bali. Ibukota negara kita ini diperkirakan akan tenggelam 1/4 dari kota dan yang terkena imbasnya adalah kawasan pantai, seperti Ancol, Penggilingan dan lainsebagainya. Sedangkan di Bali berpusat di Kuta (dalam beberapa tahun kawasan ini akan menyusut dibagian tengahnya dan putus terbagi dua bagian), tak heran jika nanti akan terbuat sebuah jembatan di kawasan itu.
Es mencair di Kutub Utara akan menghasilkan gas metana yang sangat mengerikan bagi seluruh umat manusia. Wajar saja jika film 2012 dibuat secara ekslusif lantaran perilaku manusia yang belum sadar akan bahaya besar.
Kembali lagi persoalan di Indonesia yang notabenenya akan memulihkan perekonomian hinnga menjadi negara ke-5 di dunia setelah Amerika, Eropa, Cina dan India (dalam pidato sebuah parpol semalam), apakah pemerintah yakin bisa merubah kesadaran SDM yang sudah berpuluh-puluh tahun menganut faham inlender (ketergantungan sama bangsa asing)?
SDM ini yang dimaksudkan penulis bukan saja rakyat yang harus dirugikan terus menerus, melainkan para pejabat dulu hingga kini yang masih menggerogoti uang rakyatnya.
Jangan cuma saat kesulitan saja rakyat disuruh membantu pemerintah, tapi saat orang-orang berkuasa itu senang-senang, rakyat tidak pernah mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan.
Contoh mudahnya adalah kasus lumpur Lapindo daan kemacetan Jakarta. Sebagian orang-orang berkuasa sangat puas menikmati hasil keringat rakyat untuk selalu taat pajak, bercocok tanam sebagai petani hingga mematuhi peraturan lalu-lintas bagi para pengguna sepeda motor, tapi apa yang rakyat dapatkan?!hanya kemacetan dan juga kesedihan karena harus menunggu rumah-rumah mereka yang hilang di kawasan Sidoarjo.
Begitupula dengan kejadian macet di Jakarta. Bagi kita yang sudah terbiasa terjun bukan masalah besar, namun bagi para turis asing, ini merupakan tontonan menarik yang harus dipublikasikan dalam sebuah kamera (seperti kasus semalam di sekitar Permata Hijau, Jakarta Barat).
Lantas apakah ini yang dinamakan kesadaran yang tinggi?hanya mengingat rakyat pada saat darurat seperti sekarang ini (ketika negara-negara dunia sudah mengumumkan keadaan yang sebenarnya)?
Bagaimana dengan orang-orang rendah yang selalu mematuhi peraturan Anda, Tuan?Apakah mereka (rakyat kecil) akan mendapat reward yang sesuai?
Apakah Anda (para penguasa) belum atau sudah terlanjur malu?
Menurut penulis itu merupakan hal yang paling mustahil untuk dijawab. Wajar saja jika di Madura ada seorang yang mengatakan:”Bapak gak usah bertele-tele menjelaskan itu, kalau namanya kiamat Tuhanlah yang mengatur”.
Untuk itu seminar seperti ini sangat membantu kita semua untuk membuka mata dan hati agar Tuhan memperlambat kemurakaan-Nya